Friday, 1 July 2011

"Ampun,..Memang saya kelinci,.."


Kepolisian NYPD, NAVY SEAL, dan badan intelejen CIA saling menyombong bahwa merekalah yang terbaik dalam menangkap teroris yang sedang marak saat sekarang. "Obama" merasa perlu untuk melakukan tes terhadap hal ini.

"Obama" melepas seekor kelinci kedalam hutan dan ketiga kelompok pengikut tes di atas harus berusaha menangkapnya

CIA masuk ke hutan. Mereka menempatkan informan-informan di setiap pelosok hutan itu. Mereka menanyai setiap pohon, rumput, semak dan binatang di hutan itu. Tidak ada pelosok hutan yang tidak di interogasi. Setelah tiga bulan penyelidikan hutan secara menyeluruh akhirnya CIA mengambil kesimpulan bahwa kelinci tersebut ternyata tidak pernah ada.

NAVY SEAL masuk ke hutan. Setelah dua minggu kerja tanpa hasil, mereka akhirnya membakar hutan sehingga setiap mahluk hidup didalamnya terpanggang tanpa ada kekecualian. Akhirnya kelinci tersebut tertangkap juga hitam legam, mati ... tentu saja.

Kepolisian NYPD masuk hutan. Dua jam kemudian, mereka keluar dari hutan sambil membawa seekor tikus putih yang telah hancur-hancuran badannya dipukuli. Tikus putih itu berteriak-teriak: "Ya ... ya ... saya mengaku! Saya kelinci! Saya kelinci!"

Surga dibawah Telapak kakimu IBU....,Maafkanlah,..


Saat kau berumur 1 tahun, dia menyuapi dan memandikanmu.
Sebagai balasannya, kau menangis sepanjang malam.
Saat kau berumur 2 tahun, dia mengajarimu bagaimana cara berjalan.
Sebagai balasannya, kau kabur saat dia memanggilmu.
Saat kau berumur 3 tahun, dia memasakkan semua makananmu dengan kasih sayang.
Sebagai balasannya, kau buang piring berisi makanan ke lantai.
Saat kau berumur 4 tahun, dia memberimu pensil berwarna.
Sebagai balasannya, kau coret-coret dinding rumah dan meja makan.
Saat kau berumur 5 tahun, dia membelikanmu pakaian-pakaian yang mahal dan indah.
Sebagai balasannya, kau memakainya untuk bermain di kubangan lumpur dekat rumah.
Saat kau berumur 6 tahun, dia mengantarmu pergi ke sekolah.
Sebagai balasannya, kau berteriak."NGGAK MAU!!"
Saat kau berumur 7 tahun, dia membelikanmu bola.
Sebagai balasannya, kau lemparkan bola ke jendela tetangga.
Saat kau berumur 8 tahun, dia memberimu es krim.
Sebagai balasannya, kau tumpahkan hingga mengotori seluruh bajumu.
Saat kau berumur 9 tahun, dia membayar mahal untuk kursus bahasamu.
Sebagai balasannya, kau sering bolos dan sama sekali tidak pernah berlatih.
Saat kau berumur 10 tahun, dia mengantarmu ke mana saja, dari kolam renang hingga pesta ulang tahun.
Sebagai balasannya, kau melompat keluar mobil tanpa memberi salam.
Saat kau berumur 11 tahun, dia mengantar kau dan teman-temanmu ke bioskop.
Sebagai balasannya, kau minta dia duduk di baris lain.
Saat kau berumur 12 tahun, dia melarangmu untuk melihat acara TV khusus orang dewasa.
Sebagai balasannya, kau tunggu sampai dia di keluar rumah.
Saat kau berumur 13 tahun, dia menyarankanmu untuk memotong rambut, karena sudah waktunya.
Sebagai balasannya, kau katakan dia tidak tahu mode.
Saat kau berumur 14 tahun, dia membayar biaya untuk kempingmu selama sebulan liburan.
Sebagai balasannya, kau tak pernah meneleponnya.
Saat kau berumur 15 tahun, dia pulang kerja ingin memelukmu.
Sebagai balasannya, kau kunci pintu kamarmu.
Saat kau berumur 16 tahun, dia ajari kau mengemudi mobilnya.
Sebagai balasannya, kau pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa peduli kepentingannya.
Saat kau berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telepon yang penting.
Sebagai balasannya, kau pakai telepon nonstop semalaman.
Saat kau berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kau lulus SMA.
Sebagai balasannya, kau berpesta dengan temanmu hingga pagi.
Saat kau berumur 19 tahun, dia membayar biaya kuliahmu dan mengantarmu ke kampus pada hari pertama.
Sebagai balasannya, kau minta diturunkan jauh dari pintu gerbang agar kau tidak malu di depan teman-temanmu.
Saat kau berumur 20 tahun, dia bertanya, "Dari mana saja seharian ini?"
Sebagai balasannya, kau jawab,"Ah Ibu cerewet amat sih, ingin tahu urusan orang!"
Saat kau berumur 21 tahun, dia menyarankan satu pekerjaan yang bagus untuk karirmu di masa depan.
Sebagai balasannya, kau katakan,"Aku tidak ingin seperti Ibu."
Saat kau berumur 22 tahun, dia memelukmu dengan haru saat kau lulus perguruan tinggi.
Sebagai balasannya, kau tanya dia kapan kau bisa ke Bali.
Saat kau berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah barumu.
Sebagai balasannya, kau ceritakan pada temanmu betapa jeleknya furniture itu.
Saat kau berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya tentang rencananya di masa depan.
Sebagai balasannya, kau mengeluh,"Aduuh, bagaimana Ibu ini, kok bertanya seperti itu?"
Saat kau berumur 25 tahun, dia mambantumu membiayai penikahanmu.
Sebagai balasannya, kau pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km.
Saat kau berumur 30 tahun, dia memberikan beberapa nasehat bagaimana merawat bayimu. Sebagai balasannya, kau katakan padanya,"Bu, sekarang jamannya sudah berbeda!"
Saat kau berumur 40 tahun, dia menelepon untuk memberitahukan pesta ulang tahun salah seorang kerabat.
Sebagai balasannya, kau jawab,"Bu, saya sibuk sekali, nggak ada waktu."
Saat kau berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu.
Sebagai balasannya, kau baca tentang pengaruh negatif orang tua yang menumpang tinggal di rumah anak-anaknya.
Dan hingga suatu hari, dia meninggal dengan tenang. Dan tiba-tiba kau teringat semua yang belum pernah kau lakukan, karena mereka datang menghantam HATI mu bagaikan terkena jarum, tidak ada lagi kata maaf yang bisa kau ucapkan,penyesalan memang selalu di akhir,maka sebelum menyesal mari kita bahagiakan kedua orangtua kita terutama IBU.

Wednesday, 29 June 2011

Kebohongan Vs Kejujuran

 
”There are lies, damned lies, and statistics.” Mark Twain (1835-1920)
Proposisi yang lebih umum dan layak didengar sebenarnya bukanlah apa yang jadi judul tulisan ini, tetapi sebaliknya, ”kebohongan yang jujur”. Semacam ”kebohongan putih” (white lie): mengatakan sesuatu yang tidak benar demi kebaikan.
Seorang dokter, orang tua, atau pejabat publik perlu menyatakan ”kebohongan putih” demi menghindari, katakanlah, kekacauan psikologis pada komunikan yang diajak bicara.
Selain itu, terdapat kebohongan lain yang dalam hal tertentu dapat ”diterima” khalayak. Kebohongan itu ada dalam kesenian. ucapan Vincent Crummles, tokoh dalam novel Charles Dickens—kerap dikutip Pablo Picasso—”art is a lie that reveals the truth”. Kutipan itu menjelaskan, pada dasarnya karya seni adalah dunia dusta yang terimajinasi dan direka oleh penciptanya. Namun, pada akhirnya ia menyingkap (reveal) kebenaran dalam proses signifikansi atau kontemplasi pembacanya.
Dua proposisi di atas hendak meneguhkan bahwa peradaban tidak disusun hanya oleh kebenaran, apalagi sekadar kebenaran faktual, tetapi juga oleh kebohongan, oleh dusta yang sebagian besar berkembang jadi kebenaran tersendiri. Kebudayaan, di mana pun, menyimpan mitologi, mistisisme, legenda, fabel, dan sebagainya, yang selalu menyimpan dusta di dalamnya. Namun, dusta memberi kebenaran pada pemaknaan akhir.
 
Sebagian orang
mengatakan, kebohongan tetaplah kebohongan. Seberapa pun cepat kebohongan menyebar (have speed), kebenaran akan menang karena memiliki daya tahan (have endurance). Namun, peribahasa tua mengatakan, setengah kebenaran akan menjadi kebohongan sepenuhnya.
Dua kekontrasan tentang posisi dan fungsi kebohongan di atas bukanlah dilema. Ia lebih merupakan situasi yang ditentukan oleh moralitas landasannya. Secara profetis-etis mungkin dimafhumi—bahkan perlu—adanya kebohongan pada tingkat dan kasus tertentu. Namun secara rasional-materialistis, tidak ada tempat lagi bagi dusta karena fakta (material) atau data adalah landasan utamanya.
Dua pilihan akhir itulah yang kini berkembang menjadi dilema, khususnya bagi kekuasaan, bagi pemerintahan politik, di mana modernisme, rasionalitas, dan materialisme dianggap sebagai dasar moral mereka. Namun di bagian lain, ia pun harus menenggang kearifan tradisi, agama, fatsun, hingga rahasia intelijen, yang pada hal-hal tertentu tidak mengizinkan mereka menyatakan ”yang sebenarnya”, tapi lebih mengungkap ”yang seharusnya”.
Ironi kebenaran faktual
Apa yang berkembang menjadi ironi adalah kenyataan bahwa hampir semua kekuasaan politik—baca pemerintahan—lebih mengedepankan kebenaran material atau faktual. Kebenaran yang dilandasi data empiris baik secara kualitatif maupun kuantitatif (statistik). Sebuah imperasi modern yang berdasarkan ”ukuran”. Semua yang dikerjakan harus dinilai berdasarkan ”ukuran” yang sama. Dalam hal ini ilmiah, empiris, dan statistis.
Masalah yang kemudian timbul bukan pada ”ukuran” itu, tetapi pada proses kerja dan penilaian di baliknya. Bagaimanapun, materialisasi kehidupan, yang mengukur semua kenyataan kemanusiaan dan kebudayaan dalam realitas faktual dan material saja (dapat diindra dan ditimbang), sesungguhnya adalah kerja yang reduksionistik. Pada banyak kasus tertentu, ia merupakan artifisialisasi bahkan manipulasi dari realitas multidimensi yang sebenarnya.
Hasil penelitian, bagaimanapun hebatnya, masih menyimpan error dan diskusi tentang metodenya. Beberapa penelitian terkemuka pun sering dipengaruhi oleh kepentingan pemodalnya (bisnis, militer, politik, dan sebagainya). Artinya, statistik pun, jika tidak mereduksi manusia dan kenyataan dalam pengertian fisik belaka, hanya mampu menyampaikan sebagian kebenaran, yang dalam peribahasa di atas berarti ”dusta keseluruhannya”.
Ironi kedua terjadi ketika ”kebenaran tak lengkap” ternyata selalu berhadapan dengan realitas sehari-hari yang justru berlawanan. Boleh jadi, semua indikator ekonomi kita (secara makro) menunjukkan angka dan ukuran menggembirakan (pemerintah khususnya). Namun dalam realitas sehari-hari, kesulitan hidup, rasa aman, dan jaminan serta fasilitas sosial justru dirasakan kian berat oleh masyarakat. Di titik ini, ”kebenaran tak lengkap” dari pemerintah pun menjadi ”dusta” bagi rakyatnya.
Ironi ketiga lebih menggemaskan lagi, yakni ketika dusta atau ”kebenaran tak lengkap” itu kita nyatakan, pertahankan, bahkan wacanakan terus-menerus dalam retorika yang semakin sederhana sehingga ia pun berkembang jadi kebenaran baru. Inilah metode propaganda Hitler, ”Buatlah dusta menjadi besar, jadikan sederhana, ucapkan selalu, dan kita pun akan memercayainya”.
Alangkah arif jika seorang penguasa, yang semestinya memiliki visi dan daya kontemplasi tinggi, memahami ironi kebenaran ini, bahkan untuk data dan fakta yang ia yakini.
Kebenaran sebenarnya
Apa yang kita dengar dari komunike bersama para pemimpin agama di markas Muhammadiyah mungkin lebih afdal jika diposisikan dalam pemahaman kebohongan dan kebenaran di atas. Mereka menyodorkan beberapa fakta kebohongan pemerintah—dielak pemerintah dengan kebenaran lain—yang sebaiknya kita renungi sebagai pernyataan profetis-etis dalam dimensi yang lebih dalam ketimbang dimensi material.
Secara logis dan rasional pernyataan para pemuka agama itu mengingatkan, ukuran yang digunakan pemerintah bukan hanya mereduksi, tetapi juga bertentangan dengan realitas sehari-hari yang multidimensi.
Di lain hal, kebenaran statistis bukanlah kebenaran itu sendiri, karena itu jangan menjadi kebenaran baru. Kita bisa menyetujui aforisme dari Frank Lloyd Wright, arsitek terbesar abad ke-20, ”kebenaran itu lebih penting dari fakta”.
Kebenaran terpancang lebih dalam karena menyimpan idealisme yang tak terjangkau, kecuali manusia mengejarnya. Fakta adalah kenyataan yang temporer, begitu pun kebenaran yang diwakilinya bersifat fakultatif dan sementara.
Apa yang diinginkan dan dibayangkan para pemuka agama itu adalah kebenaran, bukan sekadar fakta dengan sekian ironinya. Kebenaran yang berdiam dalam tubuh dan jiwa masyarakat, yang dituntut dan menuntut oleh sejarah dan konstitusi.
Karena itu, sanggahan pemerintah menjadi apologetis, terlebih jika hanya mengandalkan sumirnya data BPS. Kepemimpinan yang arif akan melihat lebih dalam dari sekadar fakta: kebenaran. Kebenaran yang ada di jalan becek dan macet, banjir, pasar yang mahal, pekerjaan yang sulit, serta biaya kesehatan yang mahal.
Kita membutuhkan pemimpin yang mengetahui kebenaran

Kematian akan Menghampiri kita,..siapkah kita menghadapinya,???

 
Konon, ada seorang raja  darwis  yang  berangkat  mengadakan
perjalanan  melalui  laut.  Ketika  penumpang-penumpang lain
memasuki  perahu  satu  demi  satu,  mereka  melihatnya  dan
sebagai lazimnya --merekapun  meminta nasehat kepadanya. Apa
yang dilakukan semua darwis tentu sama saja,  yakni  memberi
tahu  orang-orang  itu  hal  yang  itu-itu  juga: darwis itu
tampaknya mengulangi saja salah satu  rumusan  yang  menjadi
perhatian darwis sepanjang masa.
 
Rumusan itu adalah: "Cobalah menyadari maut, sampai kau tahu
maut itu apa." Hanya beberapa  penumpang  saja  yang  secara
khusus tertarik akan peringatan itu.
 
Mendadak   ada   angin  topan  menderu.  Anak  kapal  maupun
penumpang   semuanya   berlutut,    memohon    agar    Tuhan
menyelamatkan  perahunya.  Mereka terdengar berteriak-teriak
ketakutan,  menyerah  kepada  nasib,  meratap   mengharapkan
keselamatan.  Selama itu sang darwis duduk tenang, merenung,
sama sekali tidak memberikan reaksi terhadap gerak-gerik dan
adegan yang ada disekelilingnya.
 
Akhirnya  suasana  kacau  itu  pun berhenti, laut dan langit
tenang, dan para penumpang menjadi sadar kini betapa  tenang
darwis itu selama peristiwa ribut-ribut itu berlangsung.
 
Salah   seorang   bertanya  kepadanya,  "Apakah  Tuan  tidak
menyadari bahwa pada waktu angin  topan  itu  tak  ada  yang
lebih  kokoh  daripada  selembar papan, yang bisa memisahkan
kita dari maut?"
 
"Oh, tentu," jawab darwis itu. "Saya tahu, di laut selamanya
begitu.  Tetapi saya juga menyadari bahwa, kalau saya berada
di darat dan  merenungkannya,  dalam  peristiwa  sehari-hari
biasa, pemisah antara kita dan maut itu lebih rapuh lagi."
 
Catatan
 
Kisah   ini  ciptaan  Bayazid  dari  Bistam,  sebuah  tempat
disebelah selatan  Laut  Kaspia.  Ia  adalah  salah  seorang
diantara  Sufi  Agung zaman lampau, dan meninggal pada paroh
kedua abad kesembilan.
 
Ayahnya  seorang  pengikut  Zoroaster,   dan   ia   menerima
pendidikan  kebatinannya  di  India. Karena gurunya, Abu-Ali
dari Sind, tidak menguasai ritual Islam sepenuhnya, beberapa
ahli  beranggapan  bahwa  Abu-Ali  beragama Hindu, dan bahwa
Bayazid tentunya mempelajari  metode  mistik  India.  Tetapi
tidak   ada  ahli  yang  berwewenang,  diantara  Sufi,  yang
mengikuti anggapan tersebut. Para pengikut Bayazid  termasuk
kaum Bistamia.

SI LUMPUH DAN SI BUTA

 
Pada suatu hari seorang lumpuh pergi ke  sebuah  warung  dan
duduk  disamping  seseorang  yang  sudah  sejak tadi disana.
"Saya tidak bisa datang ke pesta Sultan,"  keluhnya,  karena
kakiku yang lumpuh sebelah ini aku tak bisa berjalan cepat."
 
Orang  disebelahnya  itu  mengangkat kepalanya. "Saya pun di
undang,"  katanya,  "tetapi  keadaanku  lebih   buruk   dari
Saudara.  Saya  buta,  dan  tak bisa melihat jalan, meskipun
saya juga diundang."
 
Orang ketiga, yang mendengar  percakapan  kedua  orang  itu,
berkata,  "Tetapi,  kalau  saja  kalian menyadarinya, kalian
berdua mempunyai sarana untuk  mencapai  tujuan.  Yang  buta
bisa  berjalan, yang lumpuh didukung di pungung. Kalian bisa
menggunakan kaki si Buta, dan Si  Lumpuh  untuk  menunjukkan
jalan."
 
Dengan  cara itulah keduanya bisa mencapai tujuan, dan pesta
sudah menanti.
 
 
Dalam perjalanan, keduanya sempat berhenti di sebuah  warung
lain.  Mereka  menjelaskan  keadaannya kepada dua orang lain
yang duduk bersedih disana. Kedua orang  itu,  yang  seorang
tuli,  yang lain bisu. Keduanya juga diundang ke pesta. Yang
bisu mendengar,  tetapi  tidak  bisa  menjelaskannya  kepada
temannya  yang tuli itu. Yang tuli bisa bicara, tetapi tidak
ada yang bisa dikatakannya.
 
Kedua orang itu tak ada yang bisa  datang  ke  pesta;  sebab
kali  ini  tak ada orang ketiga yang bisa menjelaskan kepada
mereka bahwa ada  masalah,  apalagi  bagaimana  cara  mereka
memecahkan masalah itu.
 
Catatan
 
Dikisahkan  bahwa Abdul Kadir yang Agung meninggalkan sebuah
jubah Sufi  yang  bertambal-tambal  untuk  diberikan  kepada
calon  pemakainya  yang  baru  akan  lahir  enam ratus tahun
setelah kematian Sufi Agung itu.
 
Pada  tahun  1563,  Sayid  Iskandar  Syah,  Qadiri,  setelah
mendapat  kepercayaan  ini,  menunjuk  Syeh Ahmad Faruk dari
Sirhind sebagai pewaris mantel itu.
 
Guru Naqshibandi ini telah ditahbiskan menjadi anggota  enam
belas  Kaum  Sufi  oleh  ayahnya,  yang  telah  mencari  dan
membangkitkan kembali adat dan pengetahuan Sufisme sepanjang
pengembaraannya yang jauh dan berbahaya.
 
Orang percaya bahwa Sirhind merupakan tempat yang ditentukan
munculnya Guru Agung,  dan  turun-temurun  orang-orang  suci
telah menanti perwujudan itu.
 
Sebagai  akibat dari munculnya Faruqi dan penerimaannya oleh
semua Kaum pada masanya, Kaum  Naqshibandi  kini  meresmikan
pengikut-pengikutnya   menjadi   empat   jalur  utama  dalam
Sufisme: Chishti, Qadiri, Suhrawardi, dan Naqshibandi.
 
"Si Lumpuh dan Si Buta" dianggap sebagai ciptaan Syeh  Ahmad
Faruk,  yang  meninggal  tahun  1615.  Kisah  ini baru boleh
dibaca setelah menerima perintah untuk membacanya: atau oleh
mereka   yang   telah   mempelajari   Karya   Hakim   Sanai,
"Orang-orang Buta dan Gajah."

Wednesday, 22 June 2011

7 TIPS MENGECILKAN PERUT


Bagaimana cara mengecilkan perut yang buncit? Apakah ada tips mengecilkan perut secara alami? Memiliki perut gendut memang bukan hal yang patut dibanggakan. Selain tak sedap dipandang, kondisi ini juga bisa merusak penampilan. Timbunan lemak yang berlebihan di bagian perut nyatanya bisa menghambat fungsi hati sebagai penyaring racun dalam darah.
Dengan kondisi ini membuat sistem sirkulasi tubuh tidak berjalan normal dan menjadi pemicu timbulnya berbagai masalah kesehatan, seperti kadar kolesterol tinggi dan tekanan darah tinggi.
Sebagian besar perut menggelembung alias buncit disebabkan oleh faktor dasar yaitu diet dan gaya hidup. Berikut ini beberapa cara untuk menghilangkan perut buncit baik pada pria maupun wanita, cekidot :
1. Minum air
Jika kepenuhan perut disebabkan oleh penyimpanan air, Anda sebenarnya dapat mengurangi masalah tersebut dengan minum air lebih banyak. Hal ini akan mencairkan konsentrasi sodium dalam tubuh sehingga meningkatkan jumlah air yang keluar dari sistem. Minum lebih banyak air juga menjamin fungsi empedu efektif untuk mengeluarkan produk sampah. Jangan merubah konsumsi air saat diet karena banyak bahan yang sulit dicerna dan dapat menyebabkan perut menggelembung.
2. Makan perlahan-lahan
Hindari makan cepat, karena ketika Anda menelan terlalu cepat, setidaknya udara tertahan dalam usus dan membentuk gas yang dapat memicu penggelembungan perut. Selalu duduk saat makan dan kunyah makan secara perlahan-lahan. Makanan yang tidak terkunyah menjadi bagian-bagian kecil tidak dapat dicerna dengan sempurna yang kemudian menghasilkan banyak gas yang menimbulkan penggelembungan.
3. Mengurangi konsumsi garam
Terlalu banyak garam dalam diet menambah ektra sodium terhadap cairan tubuh yang memperlambat mekanisme sehingga mendorong air keluar dari sel. Akibatnya perut terasa penuh dan menggelembung.
4. Konsumsi serat yang tepat
Serat adalah elemen penting dalam diet, tetapi untuk mengimbangi penyimpanan air yang menyebabkan penggelembungan, makanlah serat dalam buah-buahan seperti apel dan pear yang memiliki banyak kandungan air.
5. Awasi pengobatan
Perut yang mengembang adalah efek samping dari konsumsi obat. Aspirin kadang-kadang menyebabkan masalah perut yang memicu sembelit dan penggelembungan, termasuk pil kontrasepsi.
6. Hindari sembelit
Sembelit didefinisikan sebagai memiliki lebih sedikit dari tiga kali buang air besar dalam seminggu atau jika terlibat ketegangan. Sebagai akibat perut terasa menambah besar. Untuk merangsang isi perut, tingkatkan konsumsi serat dari buah-buahan dan sayuran, lakukan secara gradual untuk menghindari fermentasi dan produksi gas yang berlebihan.
7. Olahraga
Olahraga memang salah satu cara yang wajib ditempuh untuk menghilangkan si perut buncit. Olahraga akan membantu menggerakkan cairan dalam perut yang dapat menyebabkan perut besar dengan mendorongnya keluar dari jaringan dan masuk aliran darah dimana akan dilkeluarkan sebagai keringat atau dibawa ke empedu untuk dikeluarkan sebagai urine. Olahraga yang disarankan antara lain aerobik.
Itulah beberapa tips mengatasi perut buncit yang bisa anda lakukan, sekalian baca juga cara mengatasi ejakulasi dini secara alami. Selamat mencoba dan semoga berhasil mengecilkan perut Anda!

Morning Sickness


Morning sickness biasa menyerang wanita yang hamil muda. Sebuah penelitian menemukan ada kaitan antara morning sickness dengan anak yang dilahirkan. Para peneliti di Sick Kids Hospital mengatakan morning sickness bisa membuat anak-anak lebih cerdas.
Sebuah studi baru yang muncul dalam The Journal of Pediatrics menunjukkan bahwa perasaan mual meningkatkan perkembangan syaraf anak jangka panjang. Penelitian ini merupakan pertama kalinya yang menilai dampak langsung dari morning sickness dengan perkembangan syaraf anak-anak.
Studi terdahulu menunjukkan bahwa ada manfaat dari morning sickness, namun efek jangka panjang bagi anak-anak belum pernah diteliti sebelumnya.
“Temuan kami menunjukkan hubungan antara NVP dan peningkatan perkembangan syaraf pada keturunannya,” kata Dr Irena Nulman, penulis utama studi ini seperti dilansir DigitalJournal, Ahad (6/2).
“NVP adalah fenomena fisiologis yang luas dan membingungkan yang belum cukup dipelajari,” tambah Nulman, Direktur Program Asosiasi Program Motherisk, SickKids Associate Scientist.
Peserta penelitian ini direkrut menggunakan database hotline NVP Motherisk. Para peneliti menggunakan 121 wanita yang dihubungkan secara hotline sejak 1998 hingga 2003. Para peserta ini dibagi ke dalam tiga kelompok pasangan ibu dan anak. Yakni ibu yang mengalami morning sickness dan diobati dengan diclectin (obat yang digunakan untuk mengobati mual dan muntah selama kehamilan), kelompok orang-orang yang mengalami morning sickness dan tidak mengambil diclectin, dan mereka yang tidak mengalami morning sickness.

Kemudian, anak-anak yang sudah berusia 3-7 tahun diberikan tes sesuai standar usia untuk mengukur kecerdasan mereka dan perilaku. Sementara faktor luar yang diteliti termasuk IQ sang ibu, jumlah rokok yang dihisap per hari, konsumsi alkohol, dan status sosial ekonomi.
Hasilnya, penelitian ini menunjukkan bahwa semua anak-anak di tiga kelompok memiliki rata-rata normal untuk hasil perkembangan saraf. Yang mengejutkan adalah anak-anak yang ibunya morning sickness menunjukkan nilai yang lebih tinggi pada kinerja IQ, kefasihan verbal, pengolahan fonologi, dan memori numerik. Penggunaan diclectin tidak membuat perbedaan dalam kecerdasan anak-anak. Tingkat keparahan morning sickness memang membuat perbedaan seiring dengan IQ ibu.
“Hasil dari studi ini menekankan perlunya penyelidikan ilmiah lebih lanjut hingga ke dasar fisiologis NVP,” kata Dr Gideon Koren, Direktur Program Motherisk, Peneliti Senior pada SickKids dan Profesor Pediatri, Farmakologi, Farmasi dan Genetika Kedokteran di University of Toronto.