Wednesday, 22 June 2011

Making The Most of First Impressions

Can you establish a lasting business relationship in just seven seconds? You can if you make a great first impression. Seven seconds is the average length of time you have to do it, and everyone knows that you won’t get a second opportunity. A positive first impression can turn a chance encounter into a long term association.


Whether that initial meeting is face-to-face, over the phone or online, you do not have time to waste. It pays for you to understand how people make their first judgment and what you can do to be in control of the results.

1. Learn What People Use To Form Their First Opinion.

When you meet someone face-to-face, 93% of how you are judged is based on nonverbal data---your appearance and your body language. Only 7% is influenced by the words that you speak. Whoever said that you can’t judge a book by its cover failed to note that people do. When your initial encounter is over the phone, 70% of how you are perceived is based on your tone of voice and 30% on your words. Clearly, it’s not what you say---it’s the way that you say it.

2. Choose Your First Twelve Words Carefully.

Although research shows that your words make up a mere 7% of what people think of you in a one-on-one encounter, don’t leave what you say to chance. Express some form of thank you when you meet a potential connection. Perhaps it is “Thank you for taking your time to see me today” or “Thank you for joining me for lunch.” People appreciate you when you appreciate them.

3. Use The Other Person’s Name Immediately.

There is no sweeter sound than that of our own name. When you use a person’s name in conversation within your first twelve words and the first seven seconds, you are sending a message that you value the other person.. Nothing gets other people’s attention as effectively as calling them by name and giving them your full attention.

4. Pay Attention To Your Grooming. 

Others will. In fact, they will notice your hair and face first.  Putting off that much-needed haircut or color job may cost you the relationship.  Very few people want to do business with someone who is unkempt or whose hairstyle does not look professional.  Don’t let a bad hair day cost you the connection.

5. Keep Your Shoes In Mint Condition.

People will look from your face to your feet.  If your shoes aren’t well maintained, others will question whether you pay attention to detail.  Shoes should be polished as well as appropriate for the business environment. They may be the last thing you put on before you walk out the door, but shoes are often the first thing other people see.

6. Walk Fast.

Studies show that people who walk 10-20% faster than others are viewed as important and energetic---just the kind of person others want to do business with. Pick up the pace and walk with purpose if you want to impress. You never know who may be watching.

7. Fine Tune Your Handshake. 

The first move you should make when meeting someone is to put out your hand. There isn’t a businessperson anywhere who can’t tell you that the good business handshake should be a firm one. Yet time and again people offer up a limp hand. You’ll be assured of giving an impressive grip and getting off to a good start if you position your hand to make contact web-to-web with the other person’s. Once you’ve connected, close your thumb over the back of the hand and give a slight squeeze.  You’ll have an impressive handshake and the beginning of a good business relationship.

8. Make Introductions With Style.

It does matter whose name you say first and what words you use when making introductions in business.  Because business etiquette is based on rank and hierarchy, you want to honor the senior or highest ranking person by saying his name first. When the client is present, he is always the most important person.  Say the client’s name first and introduce other people to the client.  The correct words to use are “I’d like to introduce...” or “I’d like to introduce to you...” followed by the name of the other person.

9. Never Leave The Office Without Your Business Cards.

Your business cards and how you handle them contribute to your total image. Have a good supply of them with you at all times since you never know when and where you will encounter a potential client. How unimpressive is it to ask for a person’s card and hear the words, “Oh, I’m sorry.  I think I just gave away my last one.” You get the feeling that this person has either already met everyone he wants to know or maybe didn’t come prepared to do business.
Keep your cards in a card case or holder where they are protected from wear and tear.  That way you will be able to find them without a lot of fumbling around, and they will always be in pristine condition.

10. Match Your Body Language To Your Verbal Message.

A smile or pleasant expression tells people that you are glad to be with them. Eye contact says you are paying attention. Leaning in toward the other person engages you in the conversation.  Use as many signals as you can to look interested and interesting.
In the business environment, you plan your every move with clients.  You arrange for the appointment, you prepare for the meeting, you rehearse for the presentation, but in spite of your best efforts, potential contacts pop up in the most unexpected places and at the most bizarre times. For that reason, leave nothing to chance. Every time you walk out of your office, be ready to make a powerful first impression.

Friday, 17 June 2011

Percaya Diri


Percaya diri itu seni. Jika Anda merasa belum percaya diri, maka Anda bisa menjadi percaya diri. Jika Anda sudah merasa percaya diri, maka Anda bisa menjadi lebih percaya diri.

Percaya diri itu dinamis, ia bisa naik dan turun, berubah dan berkembang. Apa yang perlu Anda lakukan, adalah menjaganya agar tetap berada di tingkat yang optimal dan sehat.

UNTUK APAPUN, ANDA HARUS BERBICARA

Dalam aktivitas apapun yang Anda lakukan, Anda akan melakukan tiga hal berikut ini:

1. Memimpin;
2. Menjual;
3. Mempresentasikan.

Dalam faktanya, Anda bahkan mungkin melakukan ketiganya sekaligus.

Jika Anda sedang memimpin, maka Anda pasti sedang menjual sesuatu agar diikuti oleh orang-orang yang Anda pimpin. Dan dalam melakukannya, Anda akan menyajikan atau mempresentasikan berbagai hal yang relevan.

Jika Anda sedang menjual sesuatu, Anda sedang mengupayakan posisi memimpin, agar prospek Anda mau mengambil keputusan sesuai dengan yang Anda inginkan sebagai pihak yang menjual. Dan sekali lagi, Anda pasti mempresentasikan berbagai hal yang relevan.

Jika Anda sedang berpresentasi, maka Anda bisa dipastikan sedang menjual sesuatu. Dan karena Anda sedang berusaha menjual sesuatu, maka Anda pasti berupaya untuk memimpin audience, agar mendengarkan Anda, agar menyimak presentasi Anda, agar memahami maksud dan tujuan Anda, dan agar teryakinkan sesuai tujuan presentasi Anda.

Dalam melakukan semua aktivitas di atas, media paling umum yang akan Anda gunakan adalah komunikasi verbal alias berbicara.

Muara dari semua aktivitas itu, atau hasil akhir dari semua aktivitas itu, akan sangat ditentukan oleh kualitas bicara Anda. Sebelum sampai ke persoalan teknis seperti struktur bicara, intonasi, gaya bahasa atau bahkan pilihan kata dan kalimat, aspek mendasar dari kualitas bicara Anda adalah tingkat percaya diri Anda saat melakukannya.

Singkatnya, Anda harus menaburkan aura percaya diri saat berbicara. Karena dari situlah segala hasil akhir akan ditentukan. Jadi, titik awal Anda untuk semua aktivitas itu, adalah meraih rasa percaya diri yang lebih baik.

Berikut ini adalah kompilasi berbagai alasan untuk percaya diri, yang dikumpulkan dari para pakar manajemen, kepemimpinan, komunikasi dan motivasi.

PERCAYA DIRI BERARTI TAHAN BANTING

Jika Anda percaya diri, maka Anda akan lebih tahan terhadap berbagai tekanan, karena punya tempat berpijak dan cara berpikir yang kokoh dan kuat.

Jika Anda percaya diri, maka Anda akan lebih mampu menghadapi variasi dari situasi pribadi, sosial dan bisnis yang makin ketat dan makin keras belakangan ini.

Jika Anda percaya diri, maka Anda akan lebih tahan untuk berhadapan dengan orang lain yang makin hari makin kritis. Ingatlah bahwa tekanan yang makin kuat tidak hanya dialami oleh diri Anda sendiri, melainkan juga oleh setiap orang lain yang hidup bersama Anda di dunia ini.

Jika Anda percaya diri, maka Anda akan lebih mampu menghadapi orang lain yang makin hari makin keras dan bukan tidak mungkin makin menyebalkan.

Jika Anda percaya diri, maka Anda akan lebih mampu menghadapi berbagai apresiasi yang realistik dan objektif.

Pada akhirnya, jika Anda percaya diri, maka Anda akan lebih memiliki kontrol terhadap berbagai situasi dan keadaan yang penting untuk apapun kepentingan Anda.

PERCAYA DIRI BERARTI MAMPU MENGONTROL

Percaya diri Anda dibangun dengan berlatih untuk mengontrol berbagai hal. Dengan tingkat percaya diri yang makin baik, akan Anda akan lebih mampu mengontrol berbagai hal. Dengan percaya diri yang lebih tinggi, Anda akan mampu mengontrol berbagai aspek dari kehidupan Anda.

Dengan mampu mengontrol berbagai aspek diri pribadi Anda, Anda akan lebih jernih dalam melihat dan mengatur tujuan dan sasaran pribadi Anda. Dengan kejelasan dalam tujuan dan sasaran Anda, maka Anda akan lebih mampu dalam mengarahkan perilaku Anda menuju kepada keberhasilan Anda.

PERCAYA DIRI BERARTI TAHU KAPASITAS DIRI

Dengan percaya diri, Anda akan memahami seluk beluk dan tingkat kapasitas yang Anda miliki. Dengan mengetahui kapasitas diri, Anda akan mampu melakukan analisis SWOT untuk diri pribadi Anda.

Dengan memahami aspek SWOT diri Anda sendiri, maka Anda akan tahu persis dari mana harus memulai dan kemana akan berakhir.

PERCAYA DIRI BERARTI SUCCESS ORIENTED

Dengan percaya diri, Anda menggeser fokus diri dari jebakan ketakutan akan kegagalan dan kerugian, ke cara pandang yang optimis tentang berbagai kesempatan dan keberhasilan. Anda akan menjadi orang yang success oriented.

Dengan percaya diri, Anda tidak akan merasa cukup hanya dengan 'positive thinking', tapi lebih dari itu, Anda akan menuntut 'positive knowing'.

Dengan 'positive knowing', Anda akan menjadi orang yang ahli di bidangnya. Anda akan menjadi orang yang expert, ahli dan pakar. Itulah jalan menuju kesuksesan Anda.

PERCAYA DIRI BERARTI PERBAIKAN KUALITAS NETWORKING

Dengan percaya diri, Anda akan meningkatkan kualitas personality Anda. Dengan kenaikan personality Anda, maka Anda juga akan menaikkan kualitas 'relationship' Anda.

Seorang pemimpin atau pengusaha atau pejabat yang memulai dari bawah, kemudian terus naik sampai ke tingkatan tertentu di bidangnya, tidak hanya berhubungan dengan orang-orang di bawahnya. Lebih dari itu, ia juga akan meningkatkan kualitas networkingnya ke tingkat yang lebih tinggi dan lebih luas.

Ia akan terlibat dengan orang-orang yang juga lebih tinggi kualitasnya, lebih tinggi keahliannya, dan lebih baik tingkat percaya dirinya. Dengan itu, percaya dirinya akan makin meningkat. Dan dengan itu semua, peluang keberhasilannya juga akan meningkat.

Dengan percaya diri, Anda akan bertemu dengan orang yang lebih menyenangkan, orang yang lebih baik kualitasnya, orang yang lebih terdidik, orang yang lebih memberi kesempatan dan peluang, orang yang lebih menarik, dan orang yang lebih nikmat bagi Anda untuk berhubungan dengan mereka.

PERCAYA DIRI BERARTI KONTROL TEMPERAMEN YANG LEBIH BAIK

Di dalam ilmu sosial, ada istilah 'hukum korespondensi', yang mengatakan bahwa 'dunia luar' di luar diri Anda, adalah sebuah cermin sempurna dari 'dunia dalam' di dalam diri Anda.

Percaya diri Anda harus dimulai dari dalam. Dan jika Anda berhasil memperbaiki kualitas 'dunia dalam' Anda, maka 'dunia luar' akan mengikutinya.

Jika Anda sukses dengan berhasil meraih percaya diri, maka kesuksesan juga akan terjadi pada 'dunia luar' Anda. Jika Anda berhasil meraih percaya diri, maka Anda berpeluang besar untuk meraih keberhasilan dalam kehidupan diri pribadi, kehidupan sosial, kehidupan pendidikan, dunia karir dan dunia bisnis Anda.

Keberhasilan meraih percaya diri, berarti keberhasilan meraih kontrol terhadap temperamen pribadi. Itu berarti, Anda juga punya peluang besar untuk mengontrol temperamen 'dunia luar' Anda.

Ingat ini:

- Indahnya bulan ada di hati Anda;
- Pemandangan langit dan lautan luas beserta bintang gemintang, ada di mata Anda. Batasannya pun, tergantung kualitas penglihatan Anda;
- Panasnya terik matahari dan api, ada di kulit Anda;
- Bau busuk dunia ini, adanya di hidung Anda;
- Pedasnya cabai dan panasnya merica, ada di lidah Anda;
- Dunia dan seisinya, ada di dalam diri Anda.

Jika Anda punya kontrol terhadap temperan diri, maka Anda pantas mengontrol temperamen dunia dan seisinya. Ramah atau tidaknya dunia ini pada Anda, Anda sendiri yang menentukannya.

Dan untuk mencapainya, mulailah dengan mempercayai diri Anda sendiri. Tuhan telah menciptakan Anda dengan sempurna, dan Ia menginginkan Anda mempercayai hal itu.

PERCAYA DIRI BERARTI MAMPU MENGHAMBAT UPAYA SABOTASE DIRI

Percayalah bahwa setiap hambatan, hampir bisa dipastikan datang dari dalam diri sendiri. Setiap hambatan akan men-sabotase dengan mencegah diri Anda dari mengambil tindakan.

Tindakan adalah segala aktivitas yang membuat hidup Anda menjadi lebih baik. Resep keberhasilan adalah tindakan, dan untuk bisa bertindak, Anda perlu percaya diri.

PERCAYA DIRI BERARTI HIDUP SISTEMATIS

Sistematis berarti efisien dan efektif. Dengan percaya diri, Anda akan bertindak. Dan bertindak atas dasar percaya diri, akan membuat Anda mampu mengambil keputusan dan menentukan pilihan. Dengan kemampuan itu, tindakan Anda akan tepat, akurat, efisien dan efektif.

PERCAYA DIRI BERARTI PENINGKATAN KEMAMPUAN BELAJAR

Hidup Anda adalah sekolah Anda. Cara belajar Anda mengikuti dua pola, yaitu shaping alias pembentukan dan modelling alias teladan. Percaya diri akan membuat Anda menjadi orang yang lebih mampu dalam melakukan self development, pengembangan dan perbaikan, dan lebih mampu dalam mengambil suri tauladan serta melakukan berbagai inovasi sebagai kelanjutannya.

PERCAYA DIRI BERARTI YAKIN AKAN FUNGSI DIRI

Dengan percaya diri, Anda akan lebih yakin bahwa keseluruhan diri Anda akan berfungsi dengan baik. Dengan percaya diri Anda akan mampu mendorong diri Anda untuk total, maksimal dan optimal. Dengan semua itu, Anda akan mencapai kemandirian dan kemerdekaan.

PERCAYA DIRI BERARTI FOKUS PADA DUNIA LUAR

Tidak percaya diri disebabkan oleh kesibukan dalam mengkhawatirkan diri sendiri. Dengan percaya diri, Anda akan disibukkan oleh dunia luar. Dengan percaya diri Anda akan menjadi orang yang lebih melayani, lebih bermanfaat, dan lebih memberi nilai kepada dunia luar.

Dengan percaya diri Anda akan berorientasi keluar. Dengan percaya diri, Anda akan lebih berhasil dalam memimpin dan menjual.

PERCAYA DIRI BERARTI HIDUP YANG LEBIH NYAMAN DAN MENYENANGKAN

Dengan percaya diri Anda akan lebih menikmati diri sendiri, lebih menikmati dunia luar. Hidup Anda akan penuh dengan kegembiraan, dengan hanya sedikit kekhawatiran. Dunia Anda akan lebih nyaman dan menyenangkan. Dengan percaya diri, Anda bisa membuat 'hidup lebih hidup'.

PERCAYA DIRI BERARTI PESAN POSITIF

Dengan percaya diri, Anda akan mengkomunikasikannya kepada dunia di luar Anda. Dengan percaya diri, Anda akan membuat orang lain menjadi percaya diri. Dengan percaya diri, Anda akan lebih meyakinkan. Percaya diri adalah pesan. Pesan yang amat penting untuk dikomunikasikan kepada orang yang terlibat dengan Anda. Dengan
percaya diri, sekali lagi Anda akan berhasil dalam memimpin dan menjual.

PERCAYA DIRI BERARTI PELUANG UNTUK MENUMBUHKAN KHARISMA

Dengan percaya diri, Anda berpeluang besar untuk menumbuhkan tingkat maksimal dari percaya diri, yaitu kharisma. Dengan percaya diri, Anda akan menciptakan jalan untuk menjadi orang yang selalu didengar kata dan perintahnya.

DARI MANA DATANGNYA PERCAYA DIRI?

Percaya diri datang dari kemampuan berkomunikasi secara verbal, dengan berbicara.
Dengan berbicara, Anda akan berbicara pada diri sendiri dan berbicara pada orang lain.

Berbicara kepada diri sendiri akan menjalankan proses manajemen diri. Andalah orang yang paling tahu harus mengatakan apa pada diri sendiri.

"Saya bisa" atau "Saya tidak bisa".
"Saya akan berhasil" atau "Saya akan gagal".
"Saya harus melakukan ini" atau "Saya memang menginginkan ini".
"Saya yang menentukan" atau "Bukan Saya yang menentukan".
"Saya yang memilih" atau "Orang lain yang memilih".
"Terserah Saya" atau "Terserah orang lain".

Berbicara kepada orang lain akan menjalankan proses manajemen diri orang lain.

"Anda harus begini atau harus begitu".
"Saya meminta Anda melakukan ini atau itu".
"Saya ingin hasilnya begini atau begitu".
"Saya yang menentukan, bukan Anda yang menentukan".
"Saya yang memerintah Anda yang mengikuti".
"Saya yang menjual dan Anda yang membeli".
"Jika Anda ingin berhasil, ikuti saran Saya".

Jadi, mulailah segala keberhasilan Anda dengan percaya diri saat berbicara

Wednesday, 8 June 2011

SENYUMLAH

Tersenyum adalah suatu tindakan yang paling mudah, paling sederhana, paling murah dan paling menyenangkan di dunia.
Seringkali kita melupakan tindakan ini dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita merasa sudah terlalu letih oleh kerjaan yang menumpuk, membayar tagihan-tagihan atau kasir toko yang menyebalkan ketika tadi berbelanja.
Para pembaca yang budiman, simaklah berikut ini 5 alasan mengapa anda harus banyak tersenyum :
1. Anda akan mendapatkan lebih banyak kebahagiaan
Cobalah paksakan diri anda untuk tersenyum selama 30 detik mulai dari sekarang. Lakukan pula ketika anda mengalami kemalangan. Dengan membiasakan tersenyum, tidak peduli bagaimana perasaan anda saat itu, di dalam tubuh anda akan terjadi reaksi-reaksi kimia yang dapat membuat anda merasa bahagia.
Cobalah dan rasakan perbedaannya. 
2. Senyuman dapat merubah keadaan anda
Jika anda merasa putus asa, marah atau bosan, sebuah senyuman akan mengubah keadaan emosi anda menjadi lebih positif. Dan sebuah keadaan yang positif tidak hanya membuat hidup anda lebih menyenangkan tetapi juga membuka segala kemungkinan lain dalam pikiran anda. Anda akan melihat dunia dengan cara yang berbeda melalui lensa kebahagiaan. Dari situ anda dapat mulai membangun sederetan tindakan yang positif dan berinterasksi dengan banyak orang setiap harinya.
3. Senyuman dapat mengubah keadaan orang lain
Jika anda berjalan ke dalam sebuah ruangan atau menuju ke sebuah toko dengan senyuman di wajah anda, akan membuat semuanya berbeda. Semua orang akan berbalik tersenyum pada anda. Hal ini akan banyak membantu mencairkan setiap ketegangan atau kekakuan yang ada. Interaksi anda akan lebih terbuka, santai dan penuh dengan kegembiraan.
4. Tersenyum? Apa ruginya?
Ketika memilih antara mengerutkan dahi, ekspresi kosong atau tersenyum, tampaknya pilihan terakhir adalah pilihan yang paling produktif dan positif, bukankah demikian? Seringkali anda lupa untuk tersenyum atau mungkin anda tidak terlalu suka untuk tersenyum. Tapi jika anda berusaha untuk menggunakan senyuman anda sesering mungkin, anda lama-kelamaan akan mempunyai kebiasaan yang baru, kebiasaan yang jauh lebih positif. Jika anda termasuk orang yang selalu memperhitungkan untung rugi untuk segala hal, cobalah pertanyaan ini, ‘apa ruginya anda tersenyum?
5. Lebih mudah untuk tersenyum daripada melakukan yang sebaliknya
“Dibutuhkan tujuh puluh dua otot untuk berkerut, tetapi hanya tigabelas otot untuk tersenyum.”
- Anonim -
Jadi sebetulnya anda menggunakan jauh lebih sedikit otot ketika tersenyum dibandingkan saat anda mengerutkan dahi atau memasang muka marah. Dengan membiasakan diri untuk tersenyum, maka otot tersenyum anda akan menjadi lebih kuat daripada otot untuk mengerutkan dahi anda, sehingga lama kelamaan anda akan lebih mudah untuk tersenyum daripada melakukan hal yang sebaliknya

Tuesday, 7 June 2011

PERSAHABATAN


Aku bangga dapati dirimu seadanya..
kupikir, pantaslah dirimu kutemani
aku bahagia, sungguh ingin terurai kata...
KAULAH SAHABATKU....

bila hari-harimu berselimutkan duka
kudoakan Damai bagimu
bila hari-harimu tertimpa bahaya
kudoakan KASIH bagimu

bila hari-harimu berlarut ceria
kudoakan BAHAGIA bersamamu

selama matahari masih terbit dan tenggelam
selama bulan dan bintang dilangit masih bercahaya
selama panas dan hujan masih silih berganti
AKULAH SAHABATMU






bersama kita merangkai KARSA
bersama kita menyusun CERITA
bersama kita satukan ASA
berjalan terus bersama CINTA

bila mungkin adanya, kita kan bersama
selalu dan selamanya
dalam doa dan pinta......
BAHAGIA....

Akhirnya............................

Saya mengucapkan terima kasih banyak buat atasan ,rekan - rekan semuanya , yang tidak bisa saya sebut kan satu persatu . Saya minta mohon maaf  sebesar2nya jika ada kesalahan baik disengaja ataupun tidak . Saya akan menjaga tali persaudaraan yang sudah kita jalin selama ini bisa tetap di pertahankan .
Insyallah kita berjumpa kembali.

Mendidik Anak Taat Syariah

 Menjadi orangtua pada zaman globalisasi saat ini tidak mudah.  Apalagi jika orangtua mengharapkan anaknya tidak sekadar menjadi anak yang pintar, tetapi juga taat dan salih. Menyerahkan pendidikan sepenuhnya kepada sekolah tidaklah cukup.  Mendidik sendiri dan membatasi pergaulan di rumah juga tidak mungkin. Membiarkan mereka lepas bergaul di lingkungannya cukup berisiko.  Lalu, bagaimana cara menjadi orangtua yang bijak dan arif untuk menjadikan anak-anaknya taat pada syariah?
Asah Akal Anak untuk Berpikir yang Benar
Hampir setiap orangtua mengeluhkan betapa saat ini sangat sulit mendidik anak.  Bukan saja sikap anak-anak zaman sekarang yang lebih berani dan agak ‘sulit diatur’, tetapi juga tantangan arus globalisasi budaya, informasi, dan teknologi yang turut memiliki andil besar dalam mewarnai sikap dan perilaku anak.
“Anak-anak sekarang beda dengan anak-anak dulu.  Anak dulu kan takut dan segan sama orangtua dan guru.  Sekarang, anak berani membantah dan susah diatur.  Ada saja alasan mereka!”
Begitu rata-rata komentar para orangtua terhadap anaknya.  Yang paling sederhana, misalnya, menyuruh anak shalat.  Sudah jamak para ibu ngomel-ngomel, bahkan sambil membentak, atau mengancam sang anak agar mematikan TV dan segera shalat.  Di satu sisi banyak juga ibu-ibu yang enggan mematikan telenovela/sinetron kesayangannya dan menunda shalat. Fenomena ini jelas membingungkan anak.
Pandai dan beraninya anak-anak sekarang dalam berargumen untuk menolak perintah atau nasihat, oleh sebagian orangtua atau guru, mungkin dianggap sebagai sikap bandel atau susah diatur. Padahal bisa jadi hal itu karena kecerdasan atau keingintahuannya yang besar membuat dia menjawab atau bertanya; tidak melulu mereka menurut dan diam (karena takut) seperti anak-anak zaman dulu.


Dalam persoalan ini, orangtua haruslah memperhatikan dua hal yaitu: Pertama, memberikan informasi yang benar, yaitu yang bersumber dari ajaran Islam.  Informasi yang diberikan meliputi semua hal yang menyangkut rukun iman, rukun Islam dan hukum-hukum syariah.  Tentu cara memberikannya bertahap dan sesuai dengan kemampuan nalar anak.  Yang penting adalah merangsang anak untuk mempergunakan akalnya untuk berpikir dengan benar. Pada tahap ini orangtua dituntut untuk sabar dan penuh kasih sayang. Sebab, tidak sekali diajarkan, anak langsung mengerti dan menurut seperti keinginan kita. Dalam hal shalat, misalnya, tidak bisa anak didoktrin dengan ancaman, “Pokoknya kalau kamu nggak shalat dosa. Mama nggak akan belikan hadiah kalau kamu malas shalat!”
Ajak dulu anak mengetahui informasi yang bisa merangsang anak untuk menalar mengapa dia harus shalat.  Lalu, terus-menerus anak diajak shalat berjamaah di rumah, juga di masjid, agar anak mengetahui bahwa banyak orang Muslim yang lainnya juga melakukan shalat.
Kedua, jadilah Anda teladan pertama bagi anak. Ini untuk menjaga kepercayaan anak agar tidak ganti mengomeli Anda—karena Anda hanya pintar mengomel tetapi tidak pintar memberikan contoh.
Terbiasa memahami persoalan dengan berpatokan pada informasi yang benar adalah cara untuk mengasah ketajaman mereka menggunakan akalnya. Kelak, ketika anak sudah sempurna akalnya, kita berharap, mereka mempunyai prinsip yang tegas dan benar; bukan menjadi anak yang gampang terpengaruh oleh tren pergaulan atau takut dikatakan menjadi anak yang tidak ‘gaul’.
Tanamkan Akidah dan Syariah Sejak Dini
Menanamkan akidah yang kokoh adalah tugas utama orangtua.  Orangtualah yang akan sangat mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya sendi-sendi agama dalam diri anak. Rasulullah saw. bersabda:
Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu dan bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. (HR al-Bukhari).
Tujuan penanaman akidah pada anak adalah agar si anak mengenal betul siapa Allah.  Sejak si bayi dalam kandungan, seorang ibu bisa memulainya dengan sering bersenandung mengagungkan asma Allah.  Begitu sudah lahir, orangtua mempunyai kesempatan untuk membiasakan si bayi mendengarkan ayat-ayat al-Quran.  Pada usia dini anak harus diajak untuk belajar menalar bahwa dirinya, orangtuanya, seluruh keluarganya, manusia, dunia, dan seluruh isinya diciptakan oleh Allah. Itu sebabnya mengapa manusia harus beribadah dan taat kepada Allah.
Lebih jauh, anak dikenalkan dengan  asma dan sifat-sifat Allah. Dengan begitu, anak mengetahui betapa Allah Mahabesar, Mahaperkasa, Mahakaya, Mahakasih, Maha Melihat, Maha Mendengar, dan seterusnya.  Jika anak bisa memahaminya dengan baik, insya Allah, akan tumbuh sebuah kesadaran pada anak untuk senantiasa mengagungkan Allah dan bergantung hanya kepada Allah.  Lebih dari itu, kita berharap, dengan itu akan tumbuh benih kecintaan anak kepada Allah; cinta yang akan mendorongnya gemar melakukan amal yang dicintai Allah.
Penanaman akidah pada anak harus disertai dengan pengenalan hukum-hukum syariah secara bertahap.  Proses pembelajarannya bisa dimulai dengan memotivasi anak untuk senang melakukan hal-hal yang dicintai oleh Allah, misalnya, dengan mengajak shalat, berdoa, atau membaca al-Quran bersama.
Yang tidak kalah penting adalah menanamkan akhlâq al-karîmah seperti berbakti kepada orangtua, santun dan sayang kepada sesama, bersikap jujur, berani karena benar, tidak berbohong, bersabar, tekun bekerja, bersahaja, sederhana, dan sifat-sifat baik lainnya.  Jangan sampai luput untuk mengajarkan itu semua semata-mata untuk meraih ridha Allah, bukan untuk mendapatkan pujian atau pamrih duniawi.
Kerjasama Ayah dan Ibu
Tentu saja, anak akan lebih mudah memahami dan mengamalkan hukum jika dia melihat contoh real pada orangtuanya.  Orangtua adalah guru dan orang terdekat bagi si anak yang harus menjadi panutan.  Karenanya, orangtua dituntut untuk bekerja keras untuk memberikan contoh dalam memelihara ketaatan serta ketekunan dalam beribadah dan beramal salih.  Insya Allah, dengan begitu, anak akan mudah diingatkan secara sukarela.
Keberhasilan mengajari anak dalam sebuah keluarga memerlukan kerjasama yang kompak antara ayah dan ibu. Jika ayah dan ibu masing-masing mempunyai target dan cara yang berbeda dalam mendidik anak, tentu anak akan bingung, bahkan mungkin akan memanfaatkan orangtua menjadi kambing hitam dalam kesalahan yang dilakukannya. Ambil contoh, anak yang mencari-cari alasan agar tidak shalat.  Ayahnya memaksanya agar shalat, sementara ibunya malah membelanya. Dalam kondisi demikian, jangan salahkan anak jika dia mengatakan, “Kata ibu boleh nggak shalat kalau lagi sakit. Sekarang aku kan lagi batuk, nih…”
Peran Lingkungan, Keluarga, dan Masyarakat
Pendidikan yang diberikan oleh orangtua kepada anak belumlah cukup untuk mengantarkan si anak menjadi manusia yang berkepribadian Islam.  Anak juga membutuhkan sosialisasi dengan lingkungan tempat dia beraktivitas, baik di sekolah, sekitar rumah, maupun masyarakat secara luas.
Di sisi inilah, lingkungan dan masyarakat memiliki peran penting dalam pendidikan anak. Masyarakat yang menganut nilai-nilai, aturan, dan pemikiran Islam, seperti yang dianut juga oleh sebuah keluarga Muslim, akan mampu mengantarkan si anak menjadi seorang Muslim sejati.
Potret masyarakat sekarang yang sangat dipengaruhi oleh nilai dan pemikiran materialisme, sekularisme, permisivisme, hedonisme, dan liberalisme merupakan tantangan besar bagi keluarga Muslim.  Hal ini yang menjadikan si anak hidup dalam sebuah lingkungan yang membuatnya berada dalam posisi dilematis.  Di satu sisi dia mendapatkan pengajaran Islam dari keluarga, namun di sisi lain anak bergaul dalam lingkungan yang sarat dengan nilai yang bertentangan dengan Islam.
Tarik-menarik pengaruh lingkungan dan keluarga akan mempengaruhi sosok pribadi anak.  Untuk mengatasi persoalan ini, maka dakwah untuk mengubah sistem masyarakat yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam mutlak harus di lakukan. Hanya dengan itu akan muncul generasi Islam yang taat syariah. Insya Allah.



 9 Tips Mendidik Anak Taat Syariah;
Tumbuhkan kecintaan pertama dan utama kepada Allah.
Ajak anak Anda mengidolakan pribadi Rasulullah.
Ajak anak Anda terbiasa menghapal, membaca, dan memahami al-Quran.
Tanamkan kebiasaan beramal untuk meraih surga dan kasih sayang Allah.
Siapkan reward (penghargaan) dan sakgsi yang mendidik untuk amal baik dan amal buruknya.
Yang terpenting, Anda menjadi teladan dalam beribadah dan beramal salih.
Ajarkan secara bertahap hukum-hukum syariah sebelum usia balig.
Ramaikan rumah, mushola, dan masjid di lingkungan Anda dengan kajian Islam, dimana Anda dan anak Anda berperan aktif.
Ajarkan anak bertanggung jawab terhadap kewajiban-kewajiban untuk dirinya, keluarganya, lingkungannya, dan dakwah Islam

Makna Sholat

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj, membuahkan kewajiban shalat, sebagai satu- satunya ibadah dalam Islam, yang khusus dijemput langsung oleh Nabi Muhammad Saw ke Sidratul Muntaha. Peristiwa dahsyat yang ghairu ma’qul (tidak bisa dilogikakan) ini terjadi bertepatan dengan tanggal 27 bulan Rajab. Tidak bisa dilogikakan, artinya adalah bahwa peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini, sesuatu yang tidak bisa dicernai lewat akal.

Betapa tidak, begitu jauhnya perjalanan Nabi Muhammad dalam peristiwa ini, mulai Isra’ (perjalanan malam hari) dari masjid Haram di Makkah menuju rute Baitul Maqdis di Palestina, terus Mi’raj (naik) ke langit tinggi (yang tidak bisa dihitung mil-nya), menuju Sidratul Muntaha, hanya beliau tempuh tidak lebih dari waktu 2/3 malam atau sekitar 8 jam.

Dengan peristiwa yang luar biasa ini, orang yang mendurhakai Nabi Muhammad akan bertambah kedurhakaannya, tetapi bagi yang beriman, akan lebih bertambah keimanannya, karena terlihat, begitu Maha Berkuasanya Allah dalam memperjalankan hamba-Nya di malam hari dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini. Karena Nabi Muhammad bukan berjalan sendiri, tetapi diperjalankan Allah SWT (QS. Bani Israil :1).

Peristiwa sejarah yang hampir setiap tahun diperingati oleh umat Islam, sebaiknya dijadikan momentum dalam rangka revitalisasi (pengokohan) iman dan semangat beribadah, terutama dalam menegakkan ibadah shalat. Mulai dari komitmen pendirian ibadah ini, sampai kepada menghayati dan menggali potensi yang terkandung dalam ibadah yang sangat potensial ini.

Shalat adalah ibadah pembeda antara posisi orang mukmin dengan orang kafir. Dalam sebuah hadits riwayat Muslim nabi mengatakan : “Batas antara seseorang dengan kekafiran, adalah meninggalkan shalat”. Siapa yang meninggalkan ibadah shalat, berarti ia memasuki zona kekafiran. Dalam hadits lain riwayat Bukhari-Muslim, nabipun berkata : “ Siapa yang meninggalkan ibadah shalat dengan sengaja (tanpa alasan yang dibolehkan agama/ syara’), maka ia telah menjadi kafir”.

Pada sisi lain, dari pelaksanaan ibadah shalatpun., terpaut tegak dan hancurnya konstruksi agama (al-Diin). Hal ini dinyatakan nabi Muhmmad SAW dalam hadits shahihnya : “siapa yang mendirikan shalat, berarti ia menegakkan agama, dan siapa yang meninggalkan shalat, berarti ia menghacurkan agama”. (HR. Bukhari-Muslim).

Dengan kalkulasi, sekiranya jumlah umat Islam di Indonesia ada sekitar 200 juta, bila hanya 100 juta yang disiplin shalat lima waktu, yang 100 juta lagi tidak melaksanakan, berarti di negara kita keadaan umat Islam antara yang menegakkan agama dengan yang meruntuhnya, berimbang. Bagaikan tarik tambang, susah untuk tegaknya agama, begitu juga runtuhnya, tetapi stagnan.

Menurut pemahman sufi, meninggalkan shalat memiliki dua makna : Pertama; meninggalkan shalat secara syari’at, artinya tidak mengerjakan aktivitas shalat secara lahir dengan syarat dan rukunnya, yang dilakukan dengan ucapan, perbuatan, sikap dan gerak lahir, yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Kedua; meninggalkan shalat secara hakikat/batin dari shalat itu. Dalam shalat itu, ia tidak memahami siapa yang disembah (ma’bud) dan siapa pula yang menyembah (‘abid). Ia tidak memahami bagaimana niat dan i’tikad tauhid ditujukan, serta ia tidak memahami ke mana tujuan dan maksud tauhid disandarkan, dalam setiap gerak dan sikap dalam shalat itu.

Dari kenyataan sebelumnya, sering dijumpai banyak orang mendirikan ibadah shalat sampai usia lanjut, namun mereka tidak memperoleh kenikmatan dalam perjumpaan dengan Tuhannya, serta tidak mengalami perubahan dalam eksistensi diri. Contoh dalam hal ini ialah tidak hadirnya potensi untuk menangkap dan memahami pesan-pesan ketuhanan dalam setiap peristiwa di bumi ini, tidak hadirnya rasa takut untuk meninggalkan perintah Ilahi dan melanggar larangan-Nya, sesuai dengan potensi shalat itu sendiri, sebagai pencegah berbuat keji dan mungkar (QS. Al-angkabut : 45).

Tidak hadirnya juga, kesehatan dan kecerdasan profetik (kenabian)—yang disebut dengan prophetic intelligence--yang terimplementasi pada peningkatan etos kerja dan kinerja kekhalifahannya di muka bumi. Sering seseorang terjebak dalam lingkaran rutinitas dalam shalatnya, tanpa mau berusaha menggali potensi dan makna yang terkandung di dalamnya.

Secara jujur dapat dikatakan, bahwa sering terjadi pada diri seseorang muslim, dimana antara aqidah yang diyakinkannya (tauhid), begitupun ibadah yang ditekuninya, seolah-olah tidak nyambung sama sekali dengan realitas kehidupan kesehariannya. Persoalan seperti ini juga meresahkan pikiran Cucu Magek Dirih/Sutan Zaili Asril, dari berbagai tulisannya di koran ini. Agama terkadang hanya sebatas ritual dan upacara seremonial, tidak melantun ke kehidupan nyata.

Seolah-olah agama tidak ada kaitannya dengan persoalan ekonomi, tidak ada kaitannya dengan persoalan kemiskinan dan keterbelakangan. Agama dengan taushiyahnya terkadang hanya sebatas mimbar, sehingga tidak ikut meretas dan merajuk rona kehidupan.

Dalam ibadah shalat, sering kering dalam penggalian potensinya. Makna shalat hanya selingkar sajadah (tikar shalat), tanpa ada imbas sama sekali dalam kehidupan yang lebih luas. Seseorang itu barangkali sudah merasa puas dengan pahala dari ibadahnya, tanpa harus berpikir dan menggali lagi potensi ibadah itu, dalam pembentukan kehidupan yang lebih baik.

Sebagai contoh, pada shalat berjema’ah begitu patuhnya seseorang dalam mengikuti gerak imam dalam shalat, akan tetapi kipatuhan kepada imam dalam shalat ini, tidak berimbas kepada kepatuhan kepada pemimpin di luar shalat. Seharusnya, kepatuhan kepada imam di dalam shalat, harus berimbas kepada kepatuhan kepada pemimpin di luar shalat, selagi pemimpin itu berjalan pada yang benar. Ironis memang, bila ada masyarakat yang baru selesai shalat berjema’ah, kemudian langsung ramai-ramai mendemo ketua RW-nya yang kesalahannya belum jelas.

Justru itu, dalam memperingati Isra’ dan Mi’raj ini, sebaiknya dijadikan momentum untuk lebih dapat menggali potensi ibadah yang dilakukan, terutama ibadah shalat. Ibadah shalat memiliki potensi besar dalam membentuk seseorang menjadi insan paripurna (insan kamil). Shalat yang khusu’ (konsentrasi), berpotensi mengantarkan seseorang menjadi orang yang beruntung, minimal keuntungan rohani(QS. Al-Mu’minun : 1-2), terhindar dari kegelisahan jiwa yang akan membuat hidupnya tenang (QS. Al-Ma’arij : 19-23).

Begitupun dengan shalat yang benar, akan melahirkan sifat rendah hati pada diri seseorang. Di dalam gerak shalat, 8 buah tulang persendiannya tercecah ke bumi Allah dalam sujud. Sekalipun dahi letaknya tinggi, ibu jari kaki letaknya di bawah, namun sewaktu sujud kepada Allah, ia sejajar. Ini akan menghasilkan makna, bahwa ia betul-betul tidak ada artinya di hadapan Khaliq dan dengan sendirinya ia tidak akan bersifat sombong kepada sesama.

Hikmah dibalik Musibah

Beberapa hari terakhir, tidak henti-hentinya berita tentang musibah dan bencana dalam skala besar, mulai dari banjir bah di Wasior, Gunung Merapi meletus, Gempa dan Tsunami di Mentawai dan nampaknya bencana seperti ini tidak ada henti-hentinya.

Sebagai orang yang percaya Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, tetap memandang apapun gejala alam ini dengan kacamata Syari’ah. Sebab apapun yang terjadi tidak luput dari kehendak Allah SWT. Diantara hikmah yang bisa kita petik dibalik segala bencana ini antara lain...


Pertama, menjadi ujian kesabaran seorang mukmin, karena disaat musibah datang terlihat sekali sikap seorang hamba yang sebenarnya, apakah berbaik sangka atau justru sebaliknya berburuk sangka atau bahkan menyalahkan dan mencaci maki Allah SWT, Allah SWT berfirman,

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat. (QS. al Baqarah : 214).


Kedua, menjadi bukti betapa tidak berdayanya manusia dan begitu mahakuasanya Allah SWT, jangankan menangkis musibah, memprediksi kapan datangnya musibah secara valid manusia tidak sanggup.
Fir’aun menjadi sebegitu sombong dan congkaknya, dikarenakan sejak dia lahir sampai menjelang ajalnya, dia tidak pernah merasakan segala kesusahan hidup, kondisi ini lambat laun membuat Fir’aun merasakan betapa dia memang berhak berkuasa dan berlaku sombong, sampai-sampai pada akhirnya dia memproklamirkan dirinya sebagai Tuhan,

“dan berkatalah Fir’aun:” Akulah Tuhan kalian yang paling tinggi.” (QS. an Nazi’at : 24).


Ketiga, musibah datang untuk menggugurkan dosa dan mengangkat derajat seorang mukmin. Rasulullah bersabda,

“Tidaklah seseorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah-gulanan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya.” (HR. Bukhari no. 5641).

Keempat, musibah juga menjadi salah satu cara Allah dalam mendidik dan menegur kesilapan dan dosa hamba-Nya. Allah berfirman,

”Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun Menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. al An’am : 43).

Bahkan kepada para nabi dan rasul-Nya, Allah turunkan musibah agar mereka tidak terjebak pada sesuatu yang bisa melalaikan mereka dari cinta Allah. Nabi Yusuf Allah pisahkan dari ayahnya nabi Ya’qub. Karena dia mendapatkan cinta yang cukup besar dari bapaknya, nabi Ibrahim Allah perintahkan untuk menyembelih Ismail putra yang berpuluh-puluh tahun dinanti kehadirannya. Demikian pula Rasulullah, ditahun yang sama Allah wafatkan dua tokoh yang selama ini menjadi tulang punggung dakwah beliau. Maka di tahun wafatnya Khadijah istri beliau dan Abu Thalib sang paman disebut ‘amm alhazan (tahun duka cita). Semuanya agar rasul-Nya tak lena dengan bantuan dan cinta makhluk.
Wallahu a’lam.